Tampilkan postingan dengan label Ibu Hamil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibu Hamil. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Maret 2013

Stres Pada Ibu Bikin Bayi Laki-laki Berisiko Kena Gangguan Otak


Jakarta, Masa kehamilan adalah masa-masa yang sangat rentan. Terlebih lagi, apapun yang dirasakan dan dialami si ibu hamil kemungkinan besar juga akan menular ke calon bayinya. Hal ini senada dengan temuan tim peneliti asal AS yang mengatakan bahwa ibu hamil dapat menularkan efek stres yang dialaminya ke calon bayinya lewat plasenta.

Sebab stres akan berdampak terhadap protein yang mempengaruhi perkembangan otak si calon bayi. Bahkan protein tersebut dapat mempengaruhi otak bayi perempuan dan laki-laki dengan cara yang berbeda.

"Hampir segala hal yang dialami oleh bumil sepanjang masa kehamilan akan 'berinteraksi' dengan plasenta dan dikirimkan ke janin. Tapi dengan begitu kini kami memiliki penanda pada si janin bahwa ibunya mengalami stres," tandas ketua tim peneliti Dr. Tracy Bale dari School of Veterinary Medicine, University of Pennsylvania, AS.

Kesimpulan ini diperoleh setelah peneliti mempelajari sejumlah tikus betina yang dipapari stres ringan seperti bau rubah atau pemangsa dan suara-suara yang asing di telinganya, terutama di minggu pertama kehamilan.

Dari situ peneliti dapat mengidentifikasi adanya sebuah protein bernama OGT yang kadarnya jauh lebih rendah pada plasenta tikus yang stres daripada tikus yang tidak stres.

Padahal dari studi ini juga diketahui penurunan kadar OGT dapat memicu perubahan lebih dari 370 gen di dalam otak si calon anak tikus. Banyak diantaranya yang berperan krusial untuk perkembangan si calon anak tikus, seperti untuk mengatur penggunaan energi, pengaturan protein hingga menghasilkan koneksi antarsel saraf. Protein ini juga berfungsi melindungi otak janin selama masa kehamilan.

Menurut peneliti, temuan yang dilaporkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences juga dapat diberlakukan pada manusia. Pasalnya berdasarkan analisis terhadap plasenta manusia terlihat bahwa bayi laki-laki memiliki kadar OGT lebih rendah daripada bayi perempuan. Kondisi ini juga ditemukan pada calon anak tikus karena kadar OGT pada plasenta anak tikus jantan lebih rendah daripada yang ada pada plasenta anak tikus betina.

Peneliti percaya temuan ini dapat menjelaskan kaitan antara stres yang dialami seorang wanita saat mengandung dan gangguan seperti autisme dan schizophrenia karena kedua gangguan ini lebih banyak ditemukan pada bayi laki-laki, termasuk dengan kondisi yang lebih parah daripada jika bayi perempuan yang memilikinya.

Jadi rendahnya kadar OGT ini telah dialami si bayi laki-laki sejak dalam kandungan sehingga ketika ibunya stres, otak mereka akan berisiko lebih besar untuk mengalami gangguan.

"Dari studi ini kami berharap dapat memprediksi tingkat kecenderungan terjadinya penyakit neurodevelopmental," ungkap Dr. Bale seperti dilansir Daily Mail, Senin (11/3/2013).

"Karena jika kami dapat memahami adanya penanda paparan stres maka kami dapat mengetahui profil genetik dari individu yang terkena misalnya penyakit neurodevelopmental dan mengawasi anak-anak yang berisiko tinggi mengalaminya," tutupnya.



http://health.detik.com

Ibu Hamil Rentan Diabetes, Jaga Asupan Makanan


Jakarta, Saat hamil wanita sering kali mengalami peningkatan nafsu makan. Sepertinya saat berbadan dua,seorang perempuan ingin makan apapun tanpa peduli sehat atau tidak sehat. Tapi hati-hati ya, selain membuat berat badan meningkat luar biasa, perlu diwaspadai juga peningkatan gula dalam tubuh.

Hasil penelitian mengatakan bahwa ibu hamil 3 kali lebih berisiko mengalami diabetes. Diabetes yang umumnya dialami ibu hamil ini dikenal sebagai diabetes gestasional. Penyakit ini biasanya dialami perempuan yang hamil di usia 30 tahun.

Pada usia ini ibu hamil mengalami kenaikan berat badan, padahal sebelumnya mereka juga sudah mengalami kelebihan berat badan. Menurut para ahli, satu bulan atau setahun setelah melahirkan maka ibu akan memasuki diabetes tipe 2. Dikutip dari foxnews, Senin (11/3/2013), sekitar 5 sampai 6 persen atau sekitar 240.000 wanita hamil di Amerika mengalami diabetes gestasional.

Ini adalah salah satu komplikasi yang terjadi saat mengalami kehamilan, dan hampir semua wanita akan mendapatkan pemeriksaan ini. Karena jika gula darah ibu terlalu tinggi maka akan membuat janin terlalu besar sehingga bisa lahir lebih cepat atau harus melahirkan dengan cara caesar.

Kebanyakan dokter di Amerika melakukan pendekatan dua langkah, namun saat ini beralih pada pendekatan satu langkah. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan kenyamanan pada saat pemeriksaan dan mengurangi gula sejak dini.

Tes seperti apakah itu? Berdasarkan metode dua langkah, setiap wanita hamil minum cairan super-manis, kemudian mereka melakukan tes darah satu jam kemudian untuk melihat bagaimana tubuh memproses gula. Mereka yang gagal mengulang tes dengan minuman yang lebih besar dan tes darah selama 3 jam. Dengan metode satu-langkah, setiap orang akan mendapatkan tes dua jam saja.

Beberapa dokter sudah mencoba pendekatan sederhana ini. "The Oregon Health & Science University memulai menggunakannya pada musim panas lalu dan dua kali pada kasus diabetes gestasional," ujar ketua kebidanan, dr Aaron Caughey.

Pusat medis menyebut tak ada salahnya mencoba karena perempuan bahkan dengan diabetes ringan pun bisa mendapatkan manfaat dari konseling gizi dan tanggungan asuransi terkadang tidak dapat menutupinya kecuali sudah ada diagnosa yang jelas," katanya.

Kira Fonteneau adalah ibu hamil yang didapati memiliki penyakit diabetes itu. Padahal ia tidak memiliki berat badan berlebih. Meski menurut dokter, penyakit diabetesnya masih ringan, namun Kira tetap saja sedih.

Berbekal saran ahli gizi dan melakukan cek gula darah secara teratur, mengubah pola makannya, serta mengurangi karbohidrat. Dengan cara itu diharapkan dia dapat menjalani hidup yang lebih baik.

"Pengetahuan adalah kekuatan, jika Anda ingin memiliki bayi yang sehat," kata Kira.

Kini anak Kira yang diberi nama Sydney sudah berumur 2 tahun. Bayi itu lahir dengan berat 2,3 kilogram dalam keadaan sehat. Setelah melahirkan, Kira juga bisa menyusutkan berat badannya dengan cukup cepat.

Diabetes merupakan penyakit yang tak bisa diremehkan. Sebab penyakit ini kerap menimbulkan komplikasi lainnya seperti tekanan darah tinggi, bayi lahir dengan gula rendah, dan sangat memungkinkan bayi mengalami obesitas di masa kanak-kanaknya.



http://health.detik.com

Rabu, 06 Maret 2013

Olahraga Aman Untuk Ibu Hamil


Saat berbadan dua, sebaiknya sesuaikan aktivitas olahraga dengan kondisi tubuh. Kalau sebelumnya selalu berlatih dengan semua alat di gym, atau memilih olahraga berat seperti tenis, bulutangkis, basket, sebaiknya dihentikan dulu selama hamil dan ganti dengan beberapa olahraga yang disarankan berikut ini:
* Jalan Kaki Santai
Jalan kaki santai adalah olahraga yang paling disarankan untuk ibu hamil. Selain mudah, murah dan praktis, aktivitas ini sudah terbukti berefek positif bagi kehamilan dan persalinan. Lakukan di pagi atau sore hari selama maksimal satu jam. Tambahkan gerakan peregangan ringan seperti membuka tangan ke samping lalu menutupnya kembali sambil menghirup udara segar sebanyak-banyaknya.
* Renang
Renang termasuk olahraga sehat bagi ibu hamil. Lakukan pemanasan dan pendinginan sebelum dan sesudahnya, supaya tidak kram. Waktu berenang berikut pemanasan dan pendinginan tidak lebih dari satu jam, 2-3 kali seminggu. Kenakan pakaian renang khusus untuk ibu hamil, sehingga lebih nyaman. Pakaian renang yang biasa dipakai sebelum hamil akan terasa sesak dan menekan perut.
* Sepeda Statis
Olahraga dengan sepeda statis sebaiknya dilakukan setelah kehamilan berusia 16-20 minggu, karena plasenta sudah terbentuk sempurna. Mengapa pilihannya sepeda statis? Selain lebih seimbang, medannya pun rata. Bandingkan dengan menggunakan sepeda biasa yang mungkin saja harus melewati jalanan yang tidak rata. Lakukan secara bertahap mulai 10 menit, 20 menit dan maksimal tidak lebih dari 60 menit.
* Relaksasi Ringan
Bila ibu hamil karena satu dan lain hal tidak bisa melakukan olahraga di atas, setidaknya lakukan relaksasi ringan setiap hari. Relaksasi ringan bisa berupa latihan pernapasan dan pemusatan pikiran. Ambil posisi duduk yang nyaman, tarik napas dalam, lalu keluarkan. Lakukan beberapa kali sampai terasa relaks. Bisa juga dengan peregangan, yakni dengan menarik kedua tangan ke depan atau ke atas, tahan dalam 8 hitungan, lalu lepas kembali.
* Senam Hamil
Senam hamil umumnya dilakukan setelah kehamilan memasuki trimester ketiga. Tujuannya untuk menyiapkan ibu menghadapi proses persalinan karena gerakan-gerakan yang diajarkan sudah lebih terarah, yaitu gerakan mengatur posisi, latihan pernapasan dan mengejan yang benar. Senam hamil dilakukan 30-60 menit dengan bimbingan instruktur bersertifikat. Jangan melakukannya secara sembarangan, apalagi kalau belum pernah melakukan sebelumnya; pilih kelas senam hamil di klinik bersalin/RS terpercaya dan konsultasikan dengan dokter kandungan sebelumnya. Beberapa kondisi khusus, misalnya ibu hamil dengan plasenta previa tidak dianjurkan untuk melakukan senam hamil.

http://www.tabloid-nakita.com/read/1115/olahraga-aman-untuk-ibu-hamil

Kamis, 21 Februari 2013

3 Kondisi yang Membuat Persalinan Terasa Begitu Nyeri

Melahirkan kadang dianggap horor karena rasanya begitu menyakitkan. Meskipun sudah ada obat penghilang rasa nyeri pada proses persalinan tetapi dinilai kurang membantu. Persalinan yang begitu nyeri terjadi dalam 3 kondisi ini.

Ada begitu banyak faktor yang mempengaruhi nyeri persalinan. Namun 3 kondisi ini paling banyak yang mengeluhkan rasa sakit luar bisa yaitu wanita yang pertama kali melahirkan, wanita gemuk dan wanita yang lama persalinannya.

Karena ada begitu banyak faktor yang mempengaruhi nyeri persalinan, Nitin K. Sekhri MD dari Columbia University Medical Center berusaha menggunakan model matematika untuk menghitung semua variabel yang mengarah pada penghitungan data yang digunakan untuk pengobatan nyeri pada 3 kondisi itu.

Hal-hal yang Harus Diketahui Sebelum Melahirkan


Merencanakan kelahiran bayi yang sedang dikandung adalah salah satu hal yang luar biasa sekaligus menarik. Meski begitu ada hal-hal yang sebaiknya diketahui sebelum melahirkan.

Setiap ibu hamil pasti memiliki banyak pertanyaan seperti bagaimana rasanya melahirkan atau prosedur apa yang akan dilakukannya nanti. Tapi jika hanya memiliki asumsi-asumsi saja bisa menimbulkan kekecewaan dan frustasi.

"Jika dokter memiliki satu ekspektasi dan Anda memiliki ekspektasi yang berbeda, maka semuanya akan berakhir tidak bahagia," ujar dokter obstetri dan ginekologi, Dr Lissa Rankin, seperti dikutip dari Foxnews, Kamis (27/10/2011).

Diperlukan komunikasi terbuka dengan dokter atau bidan yang nantinya membantu proses kelahiran. Selain itu ibu hamil juga sebaiknya sudah mencaritahu pilihan kelahiran apa saja yang tersedia, sehingga sudah memiliki sedikit gambaran.

Berikut ini adalah hal-hal apa saja yang sebaiknya dibicarakan dengan dokter sebelum proses persalinan yaitu:

1. Rata-rata jumlah operasi caesar
Melahirkan secara caesar adalah sebuah operasi besar yang memiliki risiko dan komplikasi serta proses pemulihan yang lebih lama. Untuk itu ketahui bagaimana pengalaman dokter dan rumah sakit tersebut dalam menangani proses operasi caesar.

2. Intervensi
Beberapa intervensi bisa diberikan dalam membantu proses persalinan seperti obat pitocin yang biasa digunakan untuk induksi. Untuk itu tanyakan pada dokter intervensi apa yang biasa diberikan apakah induksi, episiotomi atau menggunakan bantuan vakum dan forcep.

Melahirkan di Usia 30-40 Tahun Turunkan Risiko Kanker Endometrium

Menjelang usia senja, wanita rentan untuk hamil dan melahirkan anak, terutama karena fungsi dan kondisi organ reproduksinya sudah tak begitu bekerja dengan baik.

Namun baru-baru ini sebuah studi baru menemukan bahwa wanita yang melahirkan pada usia 30-an dan 40-an justru berisiko lebih kecil terserang kanker endometrium.

Wanita yang melahirkan di atas usia 40 memiliki kecenderungan terserang kanker 44 persen lebih rendah daripada wanita yang terakhir kali melahirkan sebelum berusia 25 tahun.

Sedangkan bagi wanita yang terakhir kali melahirkan diantara usia 35-39, risikonya menurun 32 persen dan bagi wanita yang melahirkan anak terakhirnya pada usia 30-34, risikonya menurun hingga 17 persen.

"Efeknya justru terlihat pada wanita-wanita yang sudah berumur. Hal ini menunjukkan bahwa perlindungannya telah berlangsung selama bertahun-tahun," ungkap peneliti Wendy Setiawan, profesor pengobatan pencegahan dari Keck School of Medicine, University of Southern California.

Peneliti meninjau data dari 17 studi yang melibatkan 8.671 wanita yang mengidap kanker endometrium dan 16.562 wanita yang tidak mengidap penyakit tersebut. Secara khusus, peneliti mengamati bagaimana melahirkan anak berpengaruh terhadap risiko kanker partisipan, tak lupa dengan mempertimbangkan variabel lain yang diketahui dapat mempengaruhi risikonya seperti penggunaan kontrasepsi dan jumlah anak.

Sayangnya peneliti tidak yakin mengapa melahirkan di usia senja bisa mempengaruhi munculnya risiko kanker endometrium.

"Mungkin hormon kehamilan bermanfaat untuk mencegah kanker pada usia senja. Melahirkan sendiri juga diyakini mampu membersihkan rahim dari sel-sel penyebab kanker atau bisa jadi wanita yang bisa hamil di usia senja memiliki rahim yang lebih sehat," terang Setiawan seperti dilansir dari MSNBC, Kamis (26/7/2012).

Pasca Operasi Bariatrik, Ibu Obesitas Lahirkan Bayi yang Lebih Sehat

Beberapa waktu lalu sejumlah studi mengungkapkan bahwa ibu yang obesitas akan melahirkan anak yang berisiko sakit jantung. Tapi Anda tak perlu khawatir karena ada solusi jitu untuk mengatasinya yaitu operasi bariatrik.

Operasi bariatrik adalah tindakan pembedahan lambung dan saluran pencernaan untuk mengurangi volume makanan yang bisa dikonsumsi dan diserap oleh tubuh seorang.

Studi baru yang menemukan solusi tersebut menerangkan bahwa perubahan metabolik dan penurunan berat badan yang terjadi pasca operasi memberikan efek positif terhadap gen-gen pembawa penyakit peradangan pada keturunannya.

"Studi kami menemukan bahwa obesitas saat hamil mempengaruhi gen yang dimiliki keturunannya," terang peneliti Dr. Frédéric Guénard dari Functional Food Institute, Laval University Kanada dan penerima Heart and Stroke Foundation Research Fellowship.

Wanita yang Jantungnya Bermasalah Cenderung Melahirkan Bayi Perempuan


Jenis kelamin bayi biasanya ditentukan oleh kromosom yang dibawa sperma. Namun ternyata sebuah studi baru di Iran menemukan fakta bahwa kondisi kesehatan ibu juga bisa mempengaruhi jenis kelamin bayi.

Menurut studi tersebut, wanita hamil yang bermasalah dengan jantungnya cenderung melahirkan bayi perempuan daripada bayi laki-laki.

Studi ini melibatkan 200 wanita hamil yang didiagnosis menderita penyakit jantung dan dirujuk ke pusat pengobatan jantung saat melahirkan. Dari 216 bayi yang dilahirkan partisipan, 75 persennya adalah bayi perempuan.

Jumlah bayi laki-laki yang lahir dalam populasi seharusnya sama dengan jumlah bayi perempuan namun rasio bayi laki-laki dan perempuan di berbagai negara dapat bervariasi tergantung pada praktik pemilihan jenis kelaminnya.

Menurut CIA, di Iran, rasionya 105 bayi laki-laki dibanding 100 bayi perempuan. Namun dalam studi penyakit jantung, rasionya 32 bayi laki-laki lahir dari 100 bayi perempuan.

Alasan perbedaan rasio jenis kelamin pada bayi-bayi yang lahir dari wanita berpenyakit jantung memang belum diketahui. Oleh karena itu para peneliti dari Universitas Tabriz di Iran mengatakan mereka berharap studi ini dapat memicu adanya penelitian tambahan untuk menemukan kaitan tersebut.